Sahabat Kecil
Sang fajar masih enggan untuk menampakkan dirinya. Kereta bisnis yang
mengantarkan Vanessa dari Jakarta, kota metropolitan, ke Jogjakarta, kota
pelajar, menghentikan lajunya. Penumpang berdesak-desakan berebut keluar dari
kereta melalui pintu keluar. Tapi itu tidak bagi Vanessa. Ia tak mau
ikut-ikutan menerobos keramaian dalam kereta, ia akan menunggu sampai suasana
mereda.
Setelah berhasil menuruni kereta yang cukup ramai dan telah menurunkan
semua barang bawaannya, Vanessa mengambil ponsel yang ada di tasnya dan segera
mencari nama Om Agus di kontak ponselnya dan menekan tombol “phone”. Nada
sambung sudah terdengar.
“Halo, selamat pagi,” ucap suara pria di sebrang sana. Pria yang sudah
dianggap sebagai ayahnya sendiri. “Udah sampai ya, Nessa ?”
“Iya Om. Vanessa udah sampai di Stasiun Lempuyangan. Jadi jemput Nessa
kan Om ?”
“Oh.. iya Nessa, jadi. Kamu tunggu Om sebentar ya, kamu duduk di ruang
tunggu aja, nanti biar Om carinya nggak susah. Kamu pakai baju warna apa ?”
“Iya Om. Aku pakai baju warna merah om”
“Oke Nessa. Tunggu Om ya, hati-hati di sana!”
“Iya Om, hati-hati juga om” ucap suara lembut Nessa mengakhiri
pembicaraannya dengan Om Agus.
Sesekali ia menengok ke arah samping kanan, kiri, depan dan belakang untuk
mengetahui apakah Om Agus sudah tiba untuk menjemputnya. Sesekali ia juga
memandang orang-orang yang sibuk menurunkan barang bawaannya dari kereta dan
orang-orang yang sibuk menjual dagangannya kesana-kemari.
Pukul 10.00 WIB. Terik matahari saat itu sudah cukup untuk menusuk
kulitnya dengan panas ditambah lagi dengan suasana yang cukup padat dan gerah.
“Vanessa, udah lama ya ?”
Sesegera ia menoleh ke arah samping. Suara itu tak asing lagi baginya.
“Eh, Om Agus, enggak kok Om.” ia segera mencium tangan pria itu dengan
halus dan lembut.
“Maaf ya, Nessa, nunggunya lama. Kamu pasti capek, langsung pulang aja
yuk!”
“Enggak lama kok. Iya Om”
Pria yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri itu sangat dirindukan
oleh Vanessa karena ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Vanessa dan Om
Agus pun segera meninggalkan stasiun yang penuh dengan keramaian ini. Vanessa
tidak terlalu suka dengan keramaian.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah Om Agus, mereka berbincang-bincang
dan saling melepas rindu karena sudah lama mereka tidak bertemu. Suasana ini
sangat dirindukan oleh Vanessa.
“Udah sampai nih, Nessa”
“Wah, rumah om sekarang udah beda ya, lebih bagus”
“Ah kamu bisa aja sih, Nessa. Turun yuk!”
Vanessa segera menuruni mobil dan bergegas menurunkan barang bawaannya
dari bagasi mobil.
“NEESSSSAAAAAA” teriak seorang pria dari dalam rumah.
Nyawa Vanessa yang sepenuhnya belum terkumpul itu sudah didekap oleh
Kevin, saudara sekaligus sahabat kecilnya. Vanessa telah menganggap Kevin sebagai
kakanya sendiri, begitupun sebaliknya dengan Kevin. Walaupun capek dan sesak,
tetapi pelukan hangat ini sangat dirindukan oleh Vanessa.
“Kevin, lepasin, aku nggak bisa nafas nih!” teriak Vanessa, sesak.
“Maaf-maaf, habis aku kangen banget sih sama kamu. Masuk yuk!” ajak Kevin
sambil memegang erat tangan Vanessa.
“Iya Vin, aku juga kangen banget kok” senyum manis Vanessa telah kembali.
“Kamu pasti capek dan laper. Tadi udah disiapin makanan sama simbok. Makan yuk!”
“Langsung makan aja ya Nessa, Om
tinggal dulu” ajak Om Agus.
“Iya, makasih Om”
Makanan disantap dengan lahap oleh Vanessa dan Kevin. Disela-sela makan,
mereka bercanda tawa dan bercerita. Suasana ini sudah lama tidak terjadi karena
mereka jarang sekali bertemu karena jarak yang memisahkan . Mereka merindukan
suasana ini. Vanessa telah nyaman dengan keluarga ini dan suasana hangatnya.
“Udah selesai? Aku antar ke kamar kamu yuk!” ajak kevin, semangat.
“Udah, yuk!”
Setelah Kevin menunjukkan kamar untuk Vanessa, ia melepas semua lelahnya
dikamar setelah beberapa jam melakukan perjalanan dari Jakarta ke Jogjakarta. Ia
mengambil ponsel dalam tasnya dan mengirim pesan yang ditujukan ke mamanya
untuk mengabari bahwa ia sudah sampai di Jogjakarta. Tak terasa Vanessa sudah
tertidur dengan pulas dan terbangun saat jam dinding menunjukkan jam enam sore.
Segera ia bergegas menuju kamar mandi untuk mandi.
Setelah selesai mandi, ia keluar kamar dan menghampiri Kevin yang sedang
ada di ruang tamu.
“Udah mandi ?” tanya Kevin dengan nada yang sedikit mengejek.
“Udah dong!” jawab Vanessa dengan menjulurkan lidahnya.
“Mau keluar nggak ?”
“Kemana ?”
“Kemana aja. Malioboro ?”
“Malem-malem gini ?”
“Iya. Papa udah ngizinin kok. Lagian bosen nih dirumah”
“Oke. Tunggu bentar ya, aku ganti baju dulu”
Setelah beberapa menit, Vanessa keluar kamar dan segera menghampiri Kevin
yang dari tadi masih duduk di ruang tamu.
“Yuk!”
“Ayok!”
Langkah mereka bersemangat untuk menghabiskan waktu malam ini bersama. Jarang
banget mereka memiliki quality time
seperti ini. Kevin meraih tangan Vanessa dan memegangnya dengan erat seolah ada
perekat di antara celah-celah tangan mereka.
Langkah Kevin mendahului langkah Vanessa dan segera membukakan pintu
untuknya.
“Silahkan masuk Nessa cantik” senyum manis Kevin melingkar di bibirnya.
“Berlebihan kamu Vin, makasih ya”
“Aku berlebihan karena aku sayang sama kamu Nessa. Kamu udah aku anggap
seperti adikku sendiri”
Pintu ditutup.
“Langsung berangkat aja ya ?”
“Oke Kevin ganteng” ledek Vanessa.
Cuaca malam itu sedang bersahabat, tidak terlalu dingin, dan tidak
terlalu panas. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sehingga Vanessa dapat
menikmati indahnya daerah ini di malam hari. Jogjakarta. Daerah yang penuh
kenangan indah waktu dulu saat ia masih tinggal di daerah ini. Kenangan indah
yang tidak mungkin ia lupakan. Lagu “Paradise”
milik Coldplay memenuhi setiap sudut mobil.
“Sekarang kamu kuliah di mana, Vin ?” pancing Vanessa mengawali pembicaraan
yang dari semula hening.
“Di UNY, Nessa. Gimana kuliah kamu ?”
“Kemarin baru selesai ujian akhirnya, Vin.”
“Kamu masih pesek aja ya Nes. Hahaha” canda Kevin sambil memencet hidung
Vanessa.
“Ah kamu vin, ngledek mulu! Nggak bakalan ada mancung kalo nggak ada
pesek. Haha” balas Vanessa terhadap candaan Kevin.
“Hahaha. Iya deh” Kevin mengalah.
Di sela-sela perjalanan menuju Malioboro, mereka bercanda tawa dan saling
ejek seperti yang dilakukan mereka waktu masih kecil. Kevin juga menunjukkan
tempat-tempat yang sering mereka kunjungi dulu. Mobil masih melaju dengan
kecepatan sedang.
“Kita parkir disini aja ya Nessa” ajak Kevin.
“Oke, Vin”
Setelah memarkirkan mobil, Kevin kembali meletakkan jemarinya di jemari
Vanessa dan seakan tak mau lepas. Mereka mengelilingi dan mengunjungi setiap
toko di Malioboro. Vanessa tertuju pada tumpukan kaos-kaos yang bertemakan
Jogja. Mereka melihat-lihat tumpukan baju yang terjajar rapi itu, dan Vanessa
memutuskan untuk membeli beberapa baju tersebut untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
“Mau makan nggak ?” tanya Kevin dengan penuh perhatian.
“Terserah kamu aja, Vin. Aku ngikut kamu aja”
“Di angkringan ?”
“Oke Vin”
Setelah capek berjalan mengelilingi Malioboro, mereka memutuskan untuk
makan di angkringan, tempat yang sering dikunjungi Kevin bersama teman-temannya.
Mereka segera mencari tempat yang pas untuk mereka duduki dan bercengkrama,
lalu mereka memesan minuman. Vanessa sibuk melihat setiap sudut di angkringan
ini.
“Kamu berapa hari liburan di Jogja, Nes ?”
Pandangan Vanessa yang dari tadi memperhatikan setiap sudut angkringan,
mengalihkan pandangannya pada parkataan Kevin. “Mungkin satu mingguan, Vin”
Kevin terlihat murung setelah perkataan Vanessa barusan. Muka Kevin yang
dari tadi bahagia dan senang bisa jalan bersama Vanessa, tiba-tiba terlihat
sedih, cemas, dan takut karena saudara sekaligus sahabat kecilnya ini akan
meninggalkan Jogja (lagi). Hampir air mata Kevin menetes di pipi imutnya.
“Kamu kenapa, Vin ? Kok sedih ?”
“Aku enggak apa-apa kok, Vin. Oiya, tempat mana lagi yang pengen kamu
kunjungi ?” kevin mengalihkan perhatiannya. Ia tidak ingin Vanessa mengetahui
kesedihannya.
“Banyak sih, Vin”
“Salah satunya ?”
“Kraton.”
“Kraton ? mau belajar sejarah ?” tanya Kevin dengan nada mengejek dan
mengerutkan dahinya.
“Dasar kamu, Vin. Cuma mau liat-liat aja sih. Hahaha”
“Hahaha. Oke, aku antar ya ?”
“Boleh juga Vin”
Udara semakin terasa dingin dan waktu terasa begitu cepat karena mereka
habiskan dengan keseruan-keseruan yang mereka ciptakan. Mereka bercerita
tentang banyak hal dari pengalaman mereka dan mengulang kembali kenangan indah
yang dilalui mereka saat masih kecil. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.
Vanessa sudah mulai menguap dan sulit menangkap perkataan Kevin.
Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang kerumah. Di perjalanan,
Kevin masih cemas dengan perkataan Vanessa yang bilang kalau Vanessa akan
kembali ke Jakarta lagi minggu depan. Kesedihan itu tampak pada raut wajah
Kevin.
“Kamu kenapa sih, Vin ? Dari tadi mukanya kok di tekuk terus. Baru ada
masalah ya ?” Vanessa mengawali pembicaraan dan dia juga cemas terhadap
sepupunya ini.
“Enggak apa-apa kok, Nessa sayang” ucap Kevin dengan memegang lembut
rambut Vanessa. Ia masih terus menutupi kesedihannya.
“Nggak mungkin kalo bilang enggak apa-apa. Pasti ada apa-apa. Kamu bohong
kan, Vin ? Aku hapal kalau kamu lagi ada masalah pasti mukamu enggak seperti
ini”
“A...aku..aku...” Kevin terbata-bata.
“Aku cuma nggak mau pisah sama kamu, Nessa.” Kevin berani mengungkapkan
isi hatinya yang sedari tadi dipendam sendiri.
“Pisah ?”
“Iya, pisah. Kamu di Jakarta, aku di Jogja”
“Enggak ada kata perpisahan diantara kita. Aku kan harus melanjutkan
kuliahku dulu, Vin. Aku pasti sering main kesini kok, atau kamu yang main ke
tempatku” jelas Vanessa, sambil memegang bahu Kevin. Mereka hanyut dalam
kesedihan.
“Iya, Nessa. Tapi kamu janji ya sering main-main kesini ?”
“Iya Kevin. Janji!” ucap Vanessa gemas.
Setelah beberapa menit mereka hanyut dalam kesedihan, akhirnya mereka
bercanda gurau kembali. Suasana kembali seperti semula. Tidak terasa, mobil
yang mereka tumpangi sudah sampi di halaman rumah dan Vanessa segera masuk ke
dalam rumah, sedangkan Kevin memarkirkan mobilnya terlebih dahulu di garasi
mobil. Di ruang tamu, ada Om Agus yang masih sibuk dengan urusan bisnisnya.
“Malem, Om” sapa Vanessa kepada Om Agus dan di ikuti dengan mencium
tangan dengan penuh kasih.
“Eh, Nessa. Baru pulang ?” senyum Om Agus melingkr indah di bibirnya.
“Iya Om. Om kok belom tidur ? masih sibuk ya ?”
“Iya nih Nes, banyak banget yang harus Om kerjakan.”
“Yaudah, Nessa tinggal dulu ya Om”
“Iya Nes, langsung tidur ya, udah malem soalnya”
“Siap Om Agus. Hehehe” canda Vanessa kepada Om Agus.
Vanessa melepas semua rasa lelahnya setelah cuci muka di kamarnya. Ia
mengambil ponsel di tasnya dan memutar beberapa lagu untuk menghantarkan
tidurnya. Kegiatan ini selalu dilakukan Vanessa sebelum tidur.
**
Hari demi hari Vanessa lakukan bersama Kevin, sepupu sekaligus sahabat
karibnya. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, dan tiba saatnya Vanessa
meninggalkan daerah istimewa ini. Daerah yang penuh kebersamaan, kenangan,
keseruan-keseruan yang dirangkup secara indah. Sebenarnya Vanessa tidak ingin
meninggalkan daerah ini (lagi). Karena tuntutan pendidikan, Vanessa terpaksa
menginggalkan daerah ini.
H-2 Va nessa akan kembali
ke Jakarta, kota mertropolitan. Tiket kereta api telah ada di tangannya.
“Kamu yakin mau balik ke Jakarta ?” ucap Kevin dengan nada sedih.
“Iya Vin, seperti kata-kataku beberapa hari lalu sama kamu, Vin”
“Tapi Nes...” air matanya sudah tak terbendung lagi. Ia sangat sedih,
sedih sesedih-sedihnya.
“Udah, Vin. Aku kan balik kesana mau nerusin kuliah aku, kamu doain aja
biar aku lulus dengan nilai yang memuaskan ya.” jelas Vanessa sambil memegang
lembut pipi kevin yang basah oleh air matanya.
“Iya Nes, doaku selalu menyertaimu” senyum manis Kevin sudah kembali
lagi.
“Gitu dong Vin. Mau keluar nggak ?”
“Kamu mau jalan ? Ayok! Mau kemana ?” Kevin semangat.
“Pasar Beringharjo.”
“Pasar Beringharjo ?” tanya Kevin dengan mengerutkan dahinya.
“Iya. Aku mau beli oleh-oleh buat keluarga disana.”
“Oke, ayok!”
“Bentar, aku ganti baju dulu!”
Setelah Vanessa ganti baju, dan mereka telah siap untuk menjelajah Pasar
Beringharjo, mereka bergegas menuju mobil yang sudah dikeluarkan dari garasi
mobil.
Cukup 20 menit perjalanan yang mereka lalui dari rumah menuju Pasar
Beringharjo dengan kecepatan mobil sedang. Mereka telah memarkirkan mobil tidak
jauh dari area Pasar Beringharjo. Mereka bergegas masuk ke dalam Pasar
Beringharjo, dan tidak lupa, Kevin memegang erat tangan Vanessa.
Hampir dua jam mereka habiskan di Pasar Beringharjo. Vanessa membawa
banyak barang bawaan di tangannya dan sebagian di bawakan oleh Kevin, sepupu
terbaiknya.
Setelah sampai rumah, mereka melepas dahaganya di dapur dan makan siang
bersama. Setelah selesai makan, Vanessa menuju kamar dan melepas lelahnya di
kasur dengan berbaring. Ia membayangkan betapa sedihnya jika harus meninggalkan
keluarga ini.
Vanessa bangun dari tidurnya dan memulai membereskan barang-barang yang
akan dibawanya pulang besok.
TOK! TOK! TOK!
Tanpa persetujuan Vanessa, sesosok pria telah masuk ke kamarnya. Kevin.
“Lagi apa Nessa ?”
“Beres-beres barang yang mau aku bawa besok, Vin”
“Oh, aku bantuin ya ?”
“Dengan senang hati, Kevin.” Senyum manis Vanessa tampak di wajah
imutnya.
Mereka membereskan barang-barang dengan penuh semangat. Canda tawa yang
mereka ciptakan juga menambah suasana menjadi lebih indah dan riuh. Tak terasa
hari sudah menjelang malam. Mereka berbaring berdampingan dikasur Vanessa yang
lumayan luas untuk mereka tempati. Tatapan mereka semu, seolah-olah sedang
memikirkan sesuatu yang tidak bisa dipecahkan.
“Nessa, malam ini aku tidur sama kamu ya ?” Kevin mengawali pembicaraan.
“Iya Vin, boleh kok.” jawab Vanessa senang.
**
Akhirnya, hari dimana Vanessa akan meninggalkan daerah ini tiba juga.
Kesedihan tampak di muka Vanessa, Kevin dan juga Om Agus. Vanessa berusaha
menahan air mata jatuh dipipi imutnya.
“Om, Vanessa pamit ya.” pamit Vanessa kepada Om Agus sambil mencium
dengan hangat dan lembut tangan Om Agus.
“Iya Nessa. Hati-hati di jalan ya!” pesan Om Agus sambil memegang rambut
Vanessa.
“Kevin, aku pamit ya. Jagain papa kamu, jangan suka pulang malem-malem,
jaga kesehatan kamu”
Kevin tidak sanggup untuk menatap Vanessa. Air mata yang sejak tadi
dibendung oleh Vanessa kini mengalir dengan deras, begitupun dengan Kevin.
Mereka berpelukan, tanda perpisahan. Pelukan hangat yang mereka ciptakan
membuat keduanya enggan melepaskan pelukan ini, seperti amplop dan perangko.
“Aku bakal kangen sama kamu Nessa” Kevin mengawali pembicaraan de
sela-sela pelukan hangat ini. Air matanya tak terbendung lagi.
“Iya, aku juga bakal kangen sama kamu Vin”
Pelukan mereka terlepas setelah kereta yang akan dinaiki oleh Vanessa
akan melaju. Vanessa segera mengusap air mata yang ada di pipinya. Langkahnya
dihentikan oleh tarikan tangan Kevin, dan Kevin segera memeluknya (lagi). Ia tidak
ingin jauh dari Vanessa. Pelukan Kevin dilepas setelah Vanessa memberi
penjelasan yang sangat menyentuh hati Kevin. Air mata pun tak terbendung lagi.
Vanessa segera menaiki kereta api yang akan mengantarkannya kembali ke
kota metropolitan. Kenangan indah yang ada di Jogjakarta akan selalu dikenang
dan tidak akan hilang dari ingtatannya. Semua begitu indah.
*Selesai*