visitors

Kamis, 19 September 2013

Contoh cerpen sederhana



Sahabat Kecil
Sang fajar masih enggan untuk menampakkan dirinya. Kereta bisnis yang mengantarkan Vanessa dari Jakarta, kota metropolitan, ke Jogjakarta, kota pelajar, menghentikan lajunya. Penumpang berdesak-desakan berebut keluar dari kereta melalui pintu keluar. Tapi itu tidak bagi Vanessa. Ia tak mau ikut-ikutan menerobos keramaian dalam kereta, ia akan menunggu sampai suasana mereda.
Setelah berhasil menuruni kereta yang cukup ramai dan telah menurunkan semua barang bawaannya, Vanessa mengambil ponsel yang ada di tasnya dan segera mencari nama Om Agus di kontak ponselnya dan menekan tombol “phone”. Nada sambung sudah terdengar.
“Halo, selamat pagi,” ucap suara pria di sebrang sana. Pria yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri. “Udah sampai ya, Nessa ?”
“Iya Om. Vanessa udah sampai di Stasiun Lempuyangan. Jadi jemput Nessa kan Om ?”
“Oh.. iya Nessa, jadi. Kamu tunggu Om sebentar ya, kamu duduk di ruang tunggu aja, nanti biar Om carinya nggak susah. Kamu pakai baju warna apa ?”
“Iya Om. Aku pakai baju warna merah om”
“Oke Nessa. Tunggu Om ya, hati-hati di sana!”
“Iya Om, hati-hati juga om” ucap suara lembut Nessa mengakhiri pembicaraannya dengan Om Agus.
Sesekali ia menengok ke arah samping kanan, kiri, depan dan belakang untuk mengetahui apakah Om Agus sudah tiba untuk menjemputnya. Sesekali ia juga memandang orang-orang yang sibuk menurunkan barang bawaannya dari kereta dan orang-orang yang sibuk menjual dagangannya kesana-kemari.
Pukul 10.00 WIB. Terik matahari saat itu sudah cukup untuk menusuk kulitnya dengan panas ditambah lagi dengan suasana yang cukup padat dan gerah.
“Vanessa, udah lama ya ?”
Sesegera ia menoleh ke arah samping. Suara itu tak asing lagi baginya.
“Eh, Om Agus, enggak kok Om.” ia segera mencium tangan pria itu dengan halus dan lembut.
“Maaf ya, Nessa, nunggunya lama. Kamu pasti capek, langsung pulang aja yuk!”
“Enggak lama kok. Iya Om”
Pria yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri itu sangat dirindukan oleh Vanessa karena ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Vanessa dan Om Agus pun segera meninggalkan stasiun yang penuh dengan keramaian ini. Vanessa tidak terlalu suka dengan keramaian.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah Om Agus, mereka berbincang-bincang dan saling melepas rindu karena sudah lama mereka tidak bertemu. Suasana ini sangat dirindukan oleh Vanessa.
“Udah sampai nih, Nessa”
“Wah, rumah om sekarang udah beda ya, lebih bagus”
“Ah kamu bisa aja sih, Nessa. Turun yuk!”
Vanessa segera menuruni mobil dan bergegas menurunkan barang bawaannya dari bagasi mobil.
“NEESSSSAAAAAA” teriak seorang pria dari dalam rumah.
Nyawa Vanessa yang sepenuhnya belum terkumpul itu sudah didekap oleh Kevin, saudara sekaligus sahabat kecilnya. Vanessa telah menganggap Kevin sebagai kakanya sendiri, begitupun sebaliknya dengan Kevin. Walaupun capek dan sesak, tetapi pelukan hangat ini sangat dirindukan oleh Vanessa.
“Kevin, lepasin, aku nggak bisa nafas nih!” teriak Vanessa, sesak.
“Maaf-maaf, habis aku kangen banget sih sama kamu. Masuk yuk!” ajak Kevin sambil memegang erat tangan Vanessa.
“Iya Vin, aku juga kangen banget kok” senyum manis Vanessa telah kembali.
“Kamu pasti capek dan laper. Tadi udah disiapin  makanan sama simbok. Makan yuk!”
 “Langsung makan aja ya Nessa, Om tinggal dulu” ajak Om Agus.
“Iya, makasih Om”
Makanan disantap dengan lahap oleh Vanessa dan Kevin. Disela-sela makan, mereka bercanda tawa dan bercerita. Suasana ini sudah lama tidak terjadi karena mereka jarang sekali bertemu karena jarak yang memisahkan . Mereka merindukan suasana ini. Vanessa telah nyaman dengan keluarga ini dan suasana hangatnya.
“Udah selesai? Aku antar ke kamar kamu yuk!” ajak kevin, semangat.
“Udah, yuk!”
Setelah Kevin menunjukkan kamar untuk Vanessa, ia melepas semua lelahnya dikamar setelah beberapa jam melakukan perjalanan dari Jakarta ke Jogjakarta. Ia mengambil ponsel dalam tasnya dan mengirim pesan yang ditujukan ke mamanya untuk mengabari bahwa ia sudah sampai di Jogjakarta. Tak terasa Vanessa sudah tertidur dengan pulas dan terbangun saat jam dinding menunjukkan jam enam sore. Segera ia bergegas menuju kamar mandi untuk mandi.
Setelah selesai mandi, ia keluar kamar dan menghampiri Kevin yang sedang ada di ruang tamu.
“Udah mandi ?” tanya Kevin dengan nada yang sedikit mengejek.
“Udah dong!” jawab Vanessa dengan menjulurkan lidahnya.
“Mau keluar nggak ?”
“Kemana ?”
“Kemana aja. Malioboro ?”
“Malem-malem gini ?”
“Iya. Papa udah ngizinin kok. Lagian bosen nih dirumah”
“Oke. Tunggu bentar ya, aku ganti baju dulu”
Setelah beberapa menit, Vanessa keluar kamar dan segera menghampiri Kevin yang dari tadi masih duduk di ruang tamu.
“Yuk!”
“Ayok!”
Langkah mereka bersemangat untuk menghabiskan waktu malam ini bersama. Jarang banget mereka memiliki quality time seperti ini. Kevin meraih tangan Vanessa dan memegangnya dengan erat seolah ada perekat di antara celah-celah tangan mereka.
Langkah Kevin mendahului langkah Vanessa dan segera membukakan pintu untuknya.
“Silahkan masuk Nessa cantik” senyum manis Kevin melingkar di bibirnya.
“Berlebihan kamu Vin, makasih ya”
“Aku berlebihan karena aku sayang sama kamu Nessa. Kamu udah aku anggap seperti adikku sendiri”
Pintu ditutup.
“Langsung berangkat aja ya ?”
“Oke Kevin ganteng” ledek Vanessa.
Cuaca malam itu sedang bersahabat, tidak terlalu dingin, dan tidak terlalu panas. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sehingga Vanessa dapat menikmati indahnya daerah ini di malam hari. Jogjakarta. Daerah yang penuh kenangan indah waktu dulu saat ia masih tinggal di daerah ini. Kenangan indah yang tidak mungkin ia lupakan. Lagu “Paradise” milik Coldplay memenuhi setiap sudut mobil.
“Sekarang kamu kuliah di mana, Vin ?” pancing Vanessa mengawali pembicaraan yang dari semula hening.
“Di UNY, Nessa. Gimana kuliah kamu ?”
“Kemarin baru selesai ujian akhirnya, Vin.”
“Kamu masih pesek aja ya Nes. Hahaha” canda Kevin sambil memencet hidung Vanessa.
“Ah kamu vin, ngledek mulu! Nggak bakalan ada mancung kalo nggak ada pesek. Haha” balas Vanessa terhadap candaan Kevin.
“Hahaha. Iya deh” Kevin mengalah.
Di sela-sela perjalanan menuju Malioboro, mereka bercanda tawa dan saling ejek seperti yang dilakukan mereka waktu masih kecil. Kevin juga menunjukkan tempat-tempat yang sering mereka kunjungi dulu. Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang.
“Kita parkir disini aja ya Nessa” ajak Kevin.
“Oke, Vin”
Setelah memarkirkan mobil, Kevin kembali meletakkan jemarinya di jemari Vanessa dan seakan tak mau lepas. Mereka mengelilingi dan mengunjungi setiap toko di Malioboro. Vanessa tertuju pada tumpukan kaos-kaos yang bertemakan Jogja. Mereka melihat-lihat tumpukan baju yang terjajar rapi itu, dan Vanessa memutuskan untuk membeli beberapa baju tersebut untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
“Mau makan nggak ?” tanya Kevin dengan penuh perhatian.
“Terserah kamu aja, Vin. Aku ngikut kamu aja”
“Di angkringan ?”
“Oke Vin”
Setelah capek berjalan mengelilingi Malioboro, mereka memutuskan untuk makan di angkringan, tempat yang sering dikunjungi Kevin bersama teman-temannya. Mereka segera mencari tempat yang pas untuk mereka duduki dan bercengkrama, lalu mereka memesan minuman. Vanessa sibuk melihat setiap sudut di angkringan ini.
“Kamu berapa hari liburan di Jogja, Nes ?”
Pandangan Vanessa yang dari tadi memperhatikan setiap sudut angkringan, mengalihkan pandangannya pada parkataan Kevin. “Mungkin satu mingguan, Vin”
Kevin terlihat murung setelah perkataan Vanessa barusan. Muka Kevin yang dari tadi bahagia dan senang bisa jalan bersama Vanessa, tiba-tiba terlihat sedih, cemas, dan takut karena saudara sekaligus sahabat kecilnya ini akan meninggalkan Jogja (lagi). Hampir air mata Kevin menetes di pipi imutnya.
“Kamu kenapa, Vin ? Kok sedih ?”
“Aku enggak apa-apa kok, Vin. Oiya, tempat mana lagi yang pengen kamu kunjungi ?” kevin mengalihkan perhatiannya. Ia tidak ingin Vanessa mengetahui kesedihannya.
“Banyak sih, Vin”
“Salah satunya ?”
“Kraton.”
“Kraton ? mau belajar sejarah ?” tanya Kevin dengan nada mengejek dan mengerutkan dahinya.
“Dasar kamu, Vin. Cuma mau liat-liat aja sih. Hahaha”
“Hahaha. Oke, aku antar ya ?”
“Boleh juga Vin”
Udara semakin terasa dingin dan waktu terasa begitu cepat karena mereka habiskan dengan keseruan-keseruan yang mereka ciptakan. Mereka bercerita tentang banyak hal dari pengalaman mereka dan mengulang kembali kenangan indah yang dilalui mereka saat masih kecil. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Vanessa sudah mulai menguap dan sulit menangkap perkataan Kevin.
Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang kerumah. Di perjalanan, Kevin masih cemas dengan perkataan Vanessa yang bilang kalau Vanessa akan kembali ke Jakarta lagi minggu depan. Kesedihan itu tampak pada raut wajah Kevin.
“Kamu kenapa sih, Vin ? Dari tadi mukanya kok di tekuk terus. Baru ada masalah ya ?” Vanessa mengawali pembicaraan dan dia juga cemas terhadap sepupunya ini.
“Enggak apa-apa kok, Nessa sayang” ucap Kevin dengan memegang lembut rambut Vanessa. Ia masih terus menutupi kesedihannya.
“Nggak mungkin kalo bilang enggak apa-apa. Pasti ada apa-apa. Kamu bohong kan, Vin ? Aku hapal kalau kamu lagi ada masalah pasti mukamu enggak seperti ini”
“A...aku..aku...” Kevin terbata-bata.
“Aku cuma nggak mau pisah sama kamu, Nessa.” Kevin berani mengungkapkan isi hatinya yang sedari tadi dipendam sendiri.
“Pisah ?”
“Iya, pisah. Kamu di Jakarta, aku di Jogja”
“Enggak ada kata perpisahan diantara kita. Aku kan harus melanjutkan kuliahku dulu, Vin. Aku pasti sering main kesini kok, atau kamu yang main ke tempatku” jelas Vanessa, sambil memegang bahu Kevin. Mereka hanyut dalam kesedihan.
“Iya, Nessa. Tapi kamu janji ya sering main-main kesini ?”
“Iya Kevin. Janji!” ucap Vanessa gemas.
Setelah beberapa menit mereka hanyut dalam kesedihan, akhirnya mereka bercanda gurau kembali. Suasana kembali seperti semula. Tidak terasa, mobil yang mereka tumpangi sudah sampi di halaman rumah dan Vanessa segera masuk ke dalam rumah, sedangkan Kevin memarkirkan mobilnya terlebih dahulu di garasi mobil. Di ruang tamu, ada Om Agus yang masih sibuk dengan urusan bisnisnya.
“Malem, Om” sapa Vanessa kepada Om Agus dan di ikuti dengan mencium tangan dengan penuh kasih.
“Eh, Nessa. Baru pulang ?” senyum Om Agus melingkr indah di bibirnya.
“Iya Om. Om kok belom tidur ? masih sibuk ya ?”
“Iya nih Nes, banyak banget yang harus Om kerjakan.”
“Yaudah, Nessa tinggal dulu ya Om”
“Iya Nes, langsung tidur ya, udah malem soalnya”
“Siap Om Agus. Hehehe” canda Vanessa kepada Om Agus.
Vanessa melepas semua rasa lelahnya setelah cuci muka di kamarnya. Ia mengambil ponsel di tasnya dan memutar beberapa lagu untuk menghantarkan tidurnya. Kegiatan ini selalu dilakukan Vanessa sebelum tidur.
**
Hari demi hari Vanessa lakukan bersama Kevin, sepupu sekaligus sahabat karibnya. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, dan tiba saatnya Vanessa meninggalkan daerah istimewa ini. Daerah yang penuh kebersamaan, kenangan, keseruan-keseruan yang dirangkup secara indah. Sebenarnya Vanessa tidak ingin meninggalkan daerah ini (lagi). Karena tuntutan pendidikan, Vanessa terpaksa menginggalkan daerah ini.
H-2 Va            nessa akan kembali ke Jakarta, kota mertropolitan. Tiket kereta api telah ada di tangannya.
“Kamu yakin mau balik ke Jakarta ?” ucap Kevin dengan nada sedih.
“Iya Vin, seperti kata-kataku beberapa hari lalu sama kamu, Vin”
“Tapi Nes...” air matanya sudah tak terbendung lagi. Ia sangat sedih, sedih sesedih-sedihnya.
“Udah, Vin. Aku kan balik kesana mau nerusin kuliah aku, kamu doain aja biar aku lulus dengan nilai yang memuaskan ya.” jelas Vanessa sambil memegang lembut pipi kevin yang basah oleh air matanya.
“Iya Nes, doaku selalu menyertaimu” senyum manis Kevin sudah kembali lagi.
“Gitu dong Vin. Mau keluar nggak ?”
“Kamu mau jalan ? Ayok! Mau kemana ?” Kevin semangat.
“Pasar Beringharjo.”
“Pasar Beringharjo ?” tanya Kevin dengan mengerutkan dahinya.
“Iya. Aku mau beli oleh-oleh buat keluarga disana.”
“Oke, ayok!”
“Bentar, aku ganti baju dulu!”
Setelah Vanessa ganti baju, dan mereka telah siap untuk menjelajah Pasar Beringharjo, mereka bergegas menuju mobil yang sudah dikeluarkan dari garasi mobil.
Cukup 20 menit perjalanan yang mereka lalui dari rumah menuju Pasar Beringharjo dengan kecepatan mobil sedang. Mereka telah memarkirkan mobil tidak jauh dari area Pasar Beringharjo. Mereka bergegas masuk ke dalam Pasar Beringharjo, dan tidak lupa, Kevin memegang erat tangan Vanessa.
Hampir dua jam mereka habiskan di Pasar Beringharjo. Vanessa membawa banyak barang bawaan di tangannya dan sebagian di bawakan oleh Kevin, sepupu terbaiknya.
Setelah sampai rumah, mereka melepas dahaganya di dapur dan makan siang bersama. Setelah selesai makan, Vanessa menuju kamar dan melepas lelahnya di kasur dengan berbaring. Ia membayangkan betapa sedihnya jika harus meninggalkan keluarga ini.
Vanessa bangun dari tidurnya dan memulai membereskan barang-barang yang akan dibawanya pulang besok.
TOK! TOK! TOK!
Tanpa persetujuan Vanessa, sesosok pria telah masuk ke kamarnya. Kevin.
“Lagi apa Nessa ?”
“Beres-beres barang yang mau aku bawa besok, Vin”
“Oh, aku bantuin ya ?”
“Dengan senang hati, Kevin.” Senyum manis Vanessa tampak di wajah imutnya.
Mereka membereskan barang-barang dengan penuh semangat. Canda tawa yang mereka ciptakan juga menambah suasana menjadi lebih indah dan riuh. Tak terasa hari sudah menjelang malam. Mereka berbaring berdampingan dikasur Vanessa yang lumayan luas untuk mereka tempati. Tatapan mereka semu, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa dipecahkan.
“Nessa, malam ini aku tidur sama kamu ya ?” Kevin mengawali pembicaraan.
“Iya Vin, boleh kok.” jawab Vanessa senang.
**
Akhirnya, hari dimana Vanessa akan meninggalkan daerah ini tiba juga. Kesedihan tampak di muka Vanessa, Kevin dan juga Om Agus. Vanessa berusaha menahan air mata jatuh dipipi imutnya.
“Om, Vanessa pamit ya.” pamit Vanessa kepada Om Agus sambil mencium dengan hangat dan lembut tangan Om Agus.
“Iya Nessa. Hati-hati di jalan ya!” pesan Om Agus sambil memegang rambut Vanessa.
“Kevin, aku pamit ya. Jagain papa kamu, jangan suka pulang malem-malem, jaga kesehatan kamu”
Kevin tidak sanggup untuk menatap Vanessa. Air mata yang sejak tadi dibendung oleh Vanessa kini mengalir dengan deras, begitupun dengan Kevin. Mereka berpelukan, tanda perpisahan. Pelukan hangat yang mereka ciptakan membuat keduanya enggan melepaskan pelukan ini, seperti amplop dan perangko.
“Aku bakal kangen sama kamu Nessa” Kevin mengawali pembicaraan de sela-sela pelukan hangat ini. Air matanya tak terbendung lagi.
“Iya, aku juga bakal kangen sama kamu Vin”
Pelukan mereka terlepas setelah kereta yang akan dinaiki oleh Vanessa akan melaju. Vanessa segera mengusap air mata yang ada di pipinya. Langkahnya dihentikan oleh tarikan tangan Kevin, dan Kevin segera memeluknya (lagi). Ia tidak ingin jauh dari Vanessa. Pelukan Kevin dilepas setelah Vanessa memberi penjelasan yang sangat menyentuh hati Kevin. Air mata pun tak terbendung lagi.
Vanessa segera menaiki kereta api yang akan mengantarkannya kembali ke kota metropolitan. Kenangan indah yang ada di Jogjakarta akan selalu dikenang dan tidak akan hilang dari ingtatannya. Semua begitu indah.
*Selesai*